Saturday, 22 September 2018

mahfudzhot kelas 2KMI dengan artinya bagian 3


الشَّرَفُ بِالْأَدَبِ
Kehormatan itu berdasarkan adab
**************************

لَا تَنْظُرَنَّ لِأَثْوَابٍ عَلَى أَحَدٍ # إِنْ رُمْتَ تَعْرِفَهُ فَانْظُرْ إِلَى الْأَدَبِ 
Janganlah engkau melihat pakaian yang ada pada seseorang,
                          Jika engkau ingin mengenal orang itu maka lihat adabnya.

وَمَا الحُسْنُ فِيْ وَجْهِ الْفَتَى شَرَفاً لَهُ # إِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْ فِعْلِهِ وَالخَلائِقِ
Dan tidaklah keindahan yang ada pada wajah seseorang itu kehormatan baginya,
Jika tidak diiringi dengan keindahan pada perbuatan dan perilakunya.

فَلْيَنْظُرَنَّ إِلَى مَنْ فَوْقَهُ أَدَبًا وَلْيَنْظُرَنَّ إِلَى مَنْ دُوْنَهُ مَالًا
Maka hendaklah seseorang melihat orang yang lebih baik dari dirinya dari segi adab,
Dan hendaknya juga ia melihat orang yang kurang dari dirinya dari segi harta.

Syarah / Penjelasan dan Kesimpulan:
1. Jika kita ingin mengetahui terhormat atau tidaknya seseorang, maka janganlah kita hanya melihat penampilannya saja, tapi lihatnya akhlak dan budi pekertinya.
2. Dan ketahuilah bahwasannya keindahan fisik yang dimiliki oleh seseorang itu bukanlah tolak ukur dalam bagi kita dalam menilainya. Maka jika kita benar-benar ingin menilainya, hendaklah kita melihat segala perilaku dan tutur katanya.

3. Jika seseorang ingin adabnya menjadi lebih baik, maka hendaknya ia melihat kepada orang lain yang adabnya lebih baik dari dirinya. Selain itu hendaknya pula ia melihat kepada orang yang hartanya tidak sebanyak dirinya agar muncul rasa syukur di hatinya, dan agar muncul rasa iba di hatinya terhadap penderitaan orang lain.

mahudzot kelas 2 KMI lengkap dengan artinya bagian 4


قَالَ الْإِمَامُ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ
Telah berkata Imam Syafi’i Radhiyallahu Anhu
**************************

شَكَوْتُ إِلَى وَكِيْعٍ سُوْءَ حِفْظِيْ # فَأَرْشَدَنِيْ إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِيْ 
Aku telah mengadukan kepada Waki’ lemahnya hafalanku,
Maka beliaupun membimbingku untuk meninggalkan maksiat.

وَأَخْبَرَنِيْ بِأَنَّ الْعِلْمَ نُوْرٌ # وَنُوْرُ اللهِ لَا يُهْدَى لِعَاصِيْ
Beliau juga memberitahukan kepadaku bahwasannya ilmu itu adalah cahaya,
Dan cahaya Allah itu tidaklah diberikan kepada orang yang berbuat maksiat.


Syarah / Penjelasan dan Kesimpulan:
Di sini dikatakan bahwa Imam Syafi’i rahimahullah pernah merasakan lemahnya kemampuan dalam menghafal, maka beliau pun mengadukan kesulitan tersebut kepada gurunya, yaitu Imam Waki’. Maka gurunya pun berpesan kepada beliau untuk menghindari maksiat. Perlu dipahami di sini bahwasannya seorang ulama seperti beliau tentu tidak akan berbuat ‘maksiat’ dalam artian yang kita pahami. Karena dalam pandangan para ulama setingkat mereka, sebuah dosa kecil yang mungkin dianggap ‘biasa’ dalam pandangan awam pun dirasakan sebagai dosa yang besar yang sangat mereka sesali. Menurut beberapa riwayat, ‘maksiat’ yang dimaksud oleh Imam Syafi’i di sini adalah bahwasannya beliau suatu ketika secara ‘tidak sengaja’ melihat betis seorang wanita yang pakaiannya tersingkap oleh angin. Demikianlah mereka para ulama yang sangat luar biasa menjaga diri dari dosa.

Kemudian juga perlu juga kita garis bawahi bahwasannya ‘lemahnya hafalan’ dalam pandangan ulama besar seperti mereka tidaklah sama dengan ‘lemahnya hafalan’ dalam pandangan orang awam seperti kita. Karena kita semua tahu bahwasannya Imam Syafi’i adalah Imam mazhab yang sampai pada level ‘Mujtahid Muthlaq’ yang hafal ratusan ribu hadis. Namun walaupun demikian, beliau masih merasa bahwasannya hafalan beliau tidaklah sebagus yang beliau harapkan. Ini tidak lain hanyalah bukti ketawadhuan atau kerendahan hati beliau di hadapan sang guru. Pelajaran yang perlu kita ambil dari Imam Syafi’i adalah :
1. Jangan pernah merasa ujub atau takjub pada ilmu yang saat ini sudah kita miliki, contohlah mereka para ulama besar yang selalu merasa kekurangan ilmu.

2. Dosa dan maksiat adalah cahaya yang tidak diberikan oleh Allah kepada pendosa, maka hendaklah kita menghindari dosa dan maksiat dalam menuntut ilmu.Wallahu A’lam.


semoga bermanfaat .

Friday, 21 September 2018

mahfudzhot kelas 2 KMI beserta artinya bagian 8


التَّوَاضُعُ 2
Tawadhu’ – Rendah Hati 2
**************************

تَوَاضَعْ تَكُنْ كَالنَّجْمِ لَاحَ لِنَاظِرٍ # عَلَى صَفَحَاتِ الْمَاءِ وَهُوَ رَفِيْعٌ
Rendah hatilah! maka engkau akan menjadi seperti bintang yang terlihat
Di permukaan air, namun (sebenarnya) ia berada pada posisi yang tinggi

وَلَا تَكُنْ كَالدُّخَانِ يَعْلُوْ بِنَفْسِهِ # إِلىَ طَبَقَاتِ الْجَوِّ وَهُوَ وَضِيْعٌ
Dan janganlah seperti asap yang membumbung tinggi dengan sendirinya
Ke lapisan atmospere namun (sebenarnya) ia berada pada posisi rendah


Syarah / Penjelasan dan Kesimpulan:
****************************************
Bintang dan Asap adalah perumpamaan yang tepat bagi orang yang rendah hati dan orang yang sombong. Orang yang rendah hati diumpamakan seperti bintang yang bayangannya terkadang terlihat di permukaan air, namun sebenarnya bintang berada pada posisi yang sangat tinggi. Adapun orang yang sombong, diumpamakan sebagai asap yang terlihat tinggi membumbung ke angkasa, namun sebenarnya setinggi apapun awan, ia tak akan mampu menandingi ketinggian bintang.

Thursday, 20 September 2018

mahfudzot kelas 2 KMI lengkap beserta artinya bagian 10


الصِّدْقُ
Kejujuran
**************************
عَلَيْكَ بِالصِّدْقِ فِيْ كُلِّ الْأُمُوْرِ لَا # تَكْذِبْ فَأَقْبَحُ مَا يُزْرِيْ بِكَ الْكَذِبُ
Hendaklah engkau berlaku jujur dalam setiap hal
Janganlah berbohong karena seburuk-buruk cela bagimu adalah kebohongan

لَا يَكْذِبُ الْمَرْأُ إِلَّا مِنْ مَهَانَتِهِ # أَوْ عَادَةِ السُّوْءِ أَوْ مِنْ قِلَّةِ الْأَدَبِ
Tidaklah seseorang itu berbohong melainkan disebabkan oleh kerendahan moralnya
Ataupun kebiasaan buruknya maupun kekurang-beradabannya


Syarah / Penjelasan dan Kesimpulan:
****************************************
Kejujuran merupakan sebuah nilai yang sangat dijunjung tinggi oleh agama Islam. Karena itu, salah satu sifat wajib bagi Nabi ada ‘Shidq’ (Kejujuran). Selain itu kejujuran juga adalah sebuah nilai yang diterima secara universal oleh semua orang.
Di sisi lain, kebohongan yang merupakan lawan dari kejujuran adalah hal yang sangat tercela dan merupakah sebuah aib yang harus diobati. Bahkan dalam sebuah hadis Rasulullah SAW bersabda bahwa kebohongan itu membawa kepada keburukan dan keburukan itu menggiring (pelakunya) ke api neraka. Dengan demikian maka tidaklah berlebihan kiranya jika dikatakan bahwa pangkal dari segala dosa adalah kebohongan.



Tuesday, 18 September 2018

Mahfudzot kelas 2 KMI lengkap dengan artinya bagan 5


الحَثُّ عَلَى التَّعَلُّمِ
Anjuran dalam menuntut ilmu


مَنْ لَمْ يَذُقْ ذُلَّ التَّعَلُّمِ سَاعَةً #  تَجَرَّعَ ذُلَّ الْجَهْلِ طُوْلَ حَيَاتـَهِ
Barangsiapa belum merasakan susahnya menuntut ilmu barang sejenak
Ia pasti akan merasakan rendahnya kebodohan seumur hidupnya

وَمَنْ فَاتَهُ التَّعْلِيْمُ وَقْتَ شَبَابِهِ # فَكَبِّرْ عَلَيْهِ أَرْبَعًا لِوَفَاتـِهِ
Barangsiapa yang lalai dari menuntut ilmu semasa mudanya
Maka bertakbirlah engkau atasnya sebanyak 4 kali akan wafatnya ia .

حَيَاةُ الْفَتَى وَاللهِ بِالْعِلْمِ وَالتُّقَى #  إِذَا لَمْ يَكُوْنَا لَا اعْتِبَارَ لِذَاتـِهِ
Hidupnya seseorang itu –demi Allah- ditentukan oleh ilmu dan takwa
Jika keduanya sudah tak ada, maka tak ada lagi harga dirinya.


Syarah / Penjelasan dan Kesimpulan:
Orang yang semasa mudanya tak pernah merasakan pahit getirnya menuntut ilmu, akan merasakan susahnya menjadi orang bodoh seumur hidupnya. Orang seperti itu layak untuk ‘ditakbiri sebanyak 4 kali’.. Maksudnya ialah sebenarnya orang seperti itu tak ubahnya bagaikan orang yang telah mati; hidup raganya, namun tidak jiwanya. Kemudian karena harkat dan martabat seorang manusia itu terletak pada ilmu dan takwanya, maka jika keduanya sudah tak ada lagi, habislah sudah yang bisa dibanggakan dari orang tersebut. 

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More